Join us di Intimonopoly

Saat Seks Menjadi Sarana Rekreasi

indomonopoly.com

Di dalam perkawinan, seksualitas mempunyai empat dimensi, yaitu prokreasi, rekreasi, relasi dan komunikasi, serta dimensi institusi. Keempat perkara itulah yang harus dibina suami istri secara bersama-sama supaya ikatan perkawinan langgeng dan harmonis.

Prokreasi adalah hubungan suami istri yang bertujuan menghasilkan keturunan, sebagai generasi penerus. Dimensi rekreasi mengandung pengertian kesenangan, yang berhubungan dengan kenikmatan dan kepuasan seksual.

Dimensi relasi berarti kehidupan seksual suami istri berfungsi pula sebagai pengikat yang lebih mempererat hubungan pribadi suami istri di dalam suatu institusi perkawinan. Tentu saja keempat dimensi ini dapat dicapai bila tidak ada gangguan seksual di pihak pria atau wanita.

Namun, dalam perjalanan perkawinan, pasangan suami istri sering tidak menyadari kalau kehidupan seksual mereka terganggu. Salah satu cirinya, kehidupan seksual mereka menjadi tidak harmonis, yaitu kenikmatan seksual tidak dapat dirasakan bersama, atau hanya dapat dinikmati oleh salah satu pihak saja.

Padahal, kehidupan seksual yang tidak harmonis, biasanya akan memengaruhi kebahagiaan perkawinan. Bahkan, tidak jarang timbul berbagai akibat yang pada akhirnya mengganggu kelangsungan perkawinan, yang tidak diharapkan oleh semua pasangan.

Contohnya, bukannya tak mungkin, kehidupan seksual tidak harmonis itu mendorong terjadi hubungan seksual dengan orang lain yang bukan pasangannya, sehingga mengancam kelangsung hidup ikatan perkawinan.

Faktor Bukan Penyakit

Menurut seksolog dari Bali, Prof. Alex Pangkahila, salah satu faktor penyebab masalah seksual yang terjadi di masyarakat adalah faktor fisik, yang bisa disebabkan penyakit dan bukan penyakit. Beberapa faktor penyebab yang bukan penyakit adalah faktor psikologis, faktor ketidakbugaran, dan faktor keterampilan.

Faktor keterampilan ini menurut saudara kandung androlog Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila itu, perlu digarisbawahi karena sebenarnya jarang orang yang menikah dan hidup dalam suatu perkawinan, sebelumnya belajar dulu tentang keterampilan seksual karena memang tidak ada kursus tentang itu.

Jadi, katanya, bisa dikatakan hampir semua pasangan memulainya dari nol. Bahkan, orang dulu berpandangan hubungan seks tidak perlu dipelajari karena bisa berlangsung secara almiah. "Padahal, nggak demikian karena hubungan seks itu harus ilmiah untuk mencapai kualitas. Lain kalau hubungan seks hanya untuk sekadarnya saja, asal kumpul lalu selesai, ya, nggak masalah,"sebutnya.

Intinya, hubungan seks yang berkualitas perlu dipelajari. Awalnya, pelajari ilmunya, setelah menguasai pengetahuan, barulah melatih diri agar terampil. Untuk itulah persoalan seksual diteliti, ditulis menjadi buku, dikembangkan menjadi ilmu, dan melahirkan para ahli serta konsultan.Keterampilan seks

Menurut Alex, keterampilan seks sendiri dibagi tiga, yaitu masalah sensual, seksualitas, dan seks itu sendiri. Yang dimaksud dengan sensual adalah perabaan yang mencakup 55 persen dari porsi keseluruhan. Seksualitas merupakan hubungan yang sudah lebih dalam lagi yang menempati 40 persen dari porsi. Sementara seks, dalam artian memasukkan alat kelamin, hanya 5 persen.

"Nah, terkadang, untuk mengejar yang 5 persen, kita sering mengabaikan yang 95 persen tadi. Di situlah sering terjadinya kegagalan mencapai hubungan seks yang prima,"kata Alex.

Dimensi Rekreasi

Kemudian menurut Wimpie, pada masa lalu, istri atau wanita memang hanya dianggap sebagai produsen anak karena setiap hubungan seksual selalu menanggung akibat hamil. Tak aneh bila kepentingan seksual wanita seakan terabaikan. Keadaan berubah setelah kontrasepsi dimasyarakatkan, sebab dimensi prokreasi dan rekreasi dapat dipisahkan.

Pasangan suami istri dapat menikmati kehidupan seksual bersama (sebagai rekreasi), tanpa harus hamil (prokreasi). Dimensi rekreasi menjadi semakin nyata karena keluarga kecil dengan dua anak telah menjadi program hampir setiap pasangan suami istri. Dengan program ini, pasangan suami istri mempunyai waktu yang sangat panjang untuk menikmati kehidupan seksual dalam perkawinannya.

Bila dengan waktu panjang yang tersedia ini tercipta kehidupan seksual yang harmonis, salah satu syarat penting bagi terciptanya kebahagiaan dalam perkawinan akan dimiliki. Memang ada beberapa sebab mengapa kehidupan seksual suami istri tidak harmonis. Pertama, pengetahuan seksual yang kurang. Kedua, komunikasi yang tidak baik. Ketiga, karena fungsi seksual yang terganggu.

Demi terciptanya kehidupan seksual agar menjadi harmonis perlu dilakukan diupayakan sikap menerima pengetahuan seksual yang benar, membina komunikasi yang baik antara suami dan istri, khususnya komunikasi seksual, menjaga fungsi seksual agar tetap baik, lalu segera mengatasi setiap gangguan fungsi seksual dengan cara yang benar.
Previous
Next Post »

Inti Monopoly